Peran Mahasiswa Kukerta dalam Menginspirasi Anak Sekolah Desa

Peran Mahasiswa Kukerta dalam Menginspirasi Anak Sekolah Desa

(Studi Lapangan di RT 04, Desa Lubuk Terentang, Dusun Simpang Camat, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat)

Oleh : Cindy Aulia Sari (201220171)

Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Email: cindiaulia242@gmail.com

Pendahuluan

Sekolah di pedesaan memikul peran strategis sebagai garda depan pembentukan karakter dan literasi dasar anak. Di RT 04, Desa Lubuk Terentang, Dusun Simpang Camat, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, tantangan pendidikan masih terasa: keterbatasan sarana belajar, akses internet yang tidak selalu stabil, dan kebutuhan pendampingan belajar yang konsisten(Eka Putra et al., 2023). Dalam konteks inilah Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Mandiri menjadi jembatan menghadirkan energi baru(Prasa et al., 2024), metode belajar kreatif, dan figur teladan yang dekat usia serta bahasanya dengan siswa.(Ihsan Batubara et al., 2024)

Ki Hadjar Dewantara mengingatkan, “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya kodrat itu.”(Rozi et al., n.d.) Mahasiswa Kukerta hadir sebagai penuntun yang memantik rasa ingin tahu, membangun kebiasaan baik(Sismita et al., 2025), dan membuka cakrawala cita-cita bagi anak-anak sekolah desa(Syafarotun Najah et al., 2023).

Konteks Lokal: Potensi dan Tantangan

Kondisi geografis dan sosial di Lubuk Terentang menyimpan potensi besar: budaya gotong royong, dukungan orang tua, dan kedekatan komunitas sekolah(Triyani & Hani Salmalina, n.d.). Di sisi lain, ritme keluarga yang banyak bertumpu pada aktivitas harian orang tua membuat pendampingan belajar di rumah tidak selalu intens(Risma Sintiya Dewi et al., 2024). Sekolah dasar di lingkungan RT 04 menjadi poros tempat anak-anak menghabiskan sebagian besar waktu belajar formal karena itu, setiap intervensi yang ringan namun konsisten (bimbingan membaca, numerasi dasar, disiplin belajar) bisa berdampak nyata.

Peran Mahasiswa Kukerta di Kelas: Kreatif, Kontekstual, Kolaboratif

  1. Metode kreatif di kelas

Mahasiswa membawa variasi pembelajaran: permainan literasi (mis. kartu suku kata), proyek sains sederhana (kapal kertas, gunung api mini), dan belajar berbasis cerita lokal (cerita rakyat Jambi) agar materi dekat dengan pengalaman anak. Kegiatan-kegiatan ini menggeser suasana belajar dari “mendengar pasif” menjadi “mengalami dan mencoba”.

  1. Jembatan literasi digital

Dengan gawai sekolah/mahasiswa, anak-anak dikenalkan aplikasi kamus offline, kuis interaktif, dan video pengetahuan pendek. Fokusnya bukan “lama di layar”, melainkan terarah dan bermakna: mencari arti kata, menonton satu video topik, lalu menuliskannya kembali dengan bahasa sendiri. Mahasiswa berperan sebagai pengarah etika digital: sopan santun berkomentar, tidak menyebar hoaks, dan memprioritaskan tugas sekolah.

  1. Pengayaan dan remedial

Di luar jam pelajaran, mahasiswa membuka pojok baca dan numerasi: 20–30 menit sesi intensif untuk siswa yang butuh penguatan membaca lancar, pemahaman bacaan, serta operasi hitung dasar. Pola kecil-rutin ini menutup “kesenjangan kecil” yang jika dibiarkan akan membesar.

Inspirasi Karakter: Menjadi Teladan yang Dekat

Jarak usia yang relatif dekat menjadikan mahasiswa mudah diterima sebagai kakak pendamping. Dengan hadir tepat waktu, menyelesaikan komitmen, dan berbicara dengan empati, mahasiswa memberi teladan disiplin dan respek. Di sinilah relevansi etika kepedulian (ethics of care) ala Nel Noddings: anak belajar paling efektif saat merasa diperhatikan. Cerita perjalanan kuliah bagaimana mengatur waktu, menabung, atau belajar dari kegagalan menjadi bahan bakar motivasi agar siswa berani bermimpi: melanjutkan sekolah, meraih prestasi, dan kembali membangun desa.

Program Konkret yang Relevan di RT 04

Agar tidak berhenti di “niat baik”, berikut paket program yang realistis untuk konteks Lubuk Terentang:

  1. “15 Menit Pagi”: Literasi & Numerasi

Tiap pagi, siswa membaca nyaring (reading aloud) atau latihan hitung cepat selama 15 menit. Mahasiswa menyiapkan kartu literasi lokal (kosakata berkaitan dengan kebun, sungai, pasar) agar anak merasakan manfaat bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Kelas Proyek Mini Tematik

Misalnya “Air Bersih dan Lingkungan”: membuat poster hemat air, eksperimen sederhana filtrasi, dan aksi bersih kelas. Di akhir, siswa memamerkan karya ke orang tua membangun rasa bangga dan dukungan keluarga.

  1. Klub Mimpi: Career Talk Berseri

Setiap pekan, mahasiswa berbagi profesi (perawat, guru, programmer) dengan bahasa sederhana, membawa alat peraga, dan menutup dengan lembar mimpi: “Aku ingin jadi… langkah kecilku minggu ini…”. Ini menanam goal setting sejak dini.

  1. Ekskul Kreatif Murah Meriah

Pojok puisi, komik sains, atau seni musik ritmis dengan alat sederhana (botol beras, tepuk ritme). Tujuannya menumbuhkan rasa percaya diri tampil.

  1. Kolaborasi Orang Tua

Mengundang orang tua ke “Sesi 30 Menit Bareng Anak” tiap akhir bulan: orang tua melihat progres, belajar cara memuji usaha (bukan hanya nilai), dan diberi panduan singkat mendampingi PR.

Tata Kelola & Keberlanjutan

Agar berdampak jangka panjang, program perlu manajemen sederhana namun rapi:

  1. Pemetaan awal (1 minggu): cek kemampuan membaca/berhitung, minat siswa, dan jadwal sekolah.
  2. Kalender program 4–6 minggu: target mingguan jelas (mis. peningkatan kelancaran baca 10–15 kata/menit).
  3. Modul ringkas satu lembar per sesi (tujuan, alat, langkah). Memudahkan guru melanjutkan setelah Kukerta usai.
  4. Pelibatan perangkat RT & komite sekolah untuk dukungan ruang, jadwal, dan logistik ringan.
  5. Serah terima: di pekan akhir, mahasiswa menyusun kit keberlanjutan (kumpulan kartu literasi, template lembar mimpi, daftar tautan video edukasi offline/low data) dan melakukan pelatihan singkat bagi guru/pengurus perpustakaan kelas.

Mengukur Dampak Secara Praktis

Tak perlu alat ukur rumit, cukup indikator sederhana yang bermakna:

  1. Literasi: kenaikan level membaca (lancar/menengah/pemula) berdasarkan rubrik 3 tingkat.
  2. Numerasi: waktu pengerjaan 10 soal hitung dasar sebelum–sesudah.
  3. Karakter: ceklis kehadiran, ketepatan waktu, dan keberanian bertanya/menjawab.
  4. Partisipasi orang tua: jumlah hadir dalam sesi bulanan dan umpan balik singkat.

Data ringkas ini memperlihatkan nilai tambah Kukerta kepada sekolah, orang tua, dan LPPM serta memudahkan publikasi artikel populer pasca kegiatan.

Penutup

Pengalaman di RT 04, Desa Lubuk Terentang, Dusun Simpang Camat, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat menunjukkan bahwa peran mahasiswa Kukerta tidak sekadar “membantu mengajar”. Mereka adalah penggerak ekosistem belajar: memantik rasa ingin tahu, menanam kebiasaan baik, dan menghadirkan teladan yang dekat. Dengan pendekatan yang kreatif, kontekstual, dan kolaboratif serta paket program yang sederhana namun terukur—anak-anak sekolah desa memperoleh percaya diri baru untuk bermimpi dan melangkah.

Prinsip “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” menemukan wujudnya di kelas-kelas sederhana Lubuk Terentang: mahasiswa memberi contoh di depan, membangun semangat di tengah, dan mendorong dari belakang. Ketika Kukerta usai, jejaknya tinggal pada kartu-kartu literasi yang terus dipakai, pada kebiasaan 15 menit pagi, pada anak yang kini berani mengacungkan tangan. Di situlah arti pengabdian: menuntun, menumbuhkan, dan menginspirasi, agar sekolah desa tumbuh bersama cita-cita besar anak-anaknya.

Referensi :

Eka Putra, Soni, S., Hul Hasanah, S., Rinaldi, R., & Ramadhanti, N. (2023). Optimalisasi Peran Pendidikan Mahasiswa KKN Kelompok 55 Universitas Muhammadiyah Riau Dalam Membangun Generasi Masa Depan. Jurnal Pengabdian UntukMu NegeRI, 7(2), 226–233. https://doi.org/10.37859/jpumri.v7i2.6035

Ihsan Batubara, Aini Fadilah Daulay, Resti Agustina, Melda Junita Nst, Nur Padilah, Cahyani Aulia Fitri, Khodijah Nasution, & Siti Khairani. (2024). Peran Mahasiswa KKN Dalam Pengembangan Pendidikan Anak-Anak di Desa Pintu Padang. Jurnal Informasi Pengabdian Masyarakat, 2(1), 104–114. https://doi.org/10.47861/jipm-nalanda.v2i1.771

Prasa, D., Fitriasari, A., Ramadiana, N., Zabar Muhamad Zamaludin, A., & Agustin, D. (2024). Peran Mahasiswa Dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa Longkewang Melalui Inisiatif Rumah Belajar. BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(1), 146–154. https://doi.org/10.31949/jb.v5i1.7180

Risma Sintiya Dewi, Pramita Khanifatul, Muhammad Akhdan, Den Ayu, Elinda Novita Dewi, Midian Savella, Herxi Thovan, & Kasmuri Kasmuri. (2024). Optimalisasi Peran Mahasiswa Kkn Dalam Bidang Peningkatan Pendidikan Di Desa Kangkung. Pemberdayaan Masyarakat : Jurnal Aksi Sosial, 1(3), 16–23. https://doi.org/10.62383/aksisosial.v1i3.400

Rozi, F., Shaleha, I., Br Sembiring, L., Rasyid Ridho, A., Dwi Rani, P., Lubis, M., & Hubbulwathan Duri, S. (n.d.). Optimalisasi Peran Mahasiswa Kukerta Sebagai Tenaga Pengajar Dalam Meningkatkan Pendidikan Di Desa Beringin. Octo: Community Service Journal, 1(1), 23–34.

Sismita, Putri Ananda, Sindi, & Aziz Abdul. (2025). Peran Mahasiswa KKM dalam Pengembangan Pendidikan Sekolah    Dasar di Desa Karyasari, Sukaresmi, Pandeglang. JUPERAN: Jurnal Penedidikan Dan Pembelajaran, 04(02), 802–809.

Syafarotun Najah, T., Pebrianti, I., Rifaat, H., Kamaliah, U., Irawan, R., Hidayatulloh, R., Sari, W., Gusti Ningsih, W., Sari Yeyen, S., Haris Pauzan, M., & Adisty, L. (2023). Peran Mahasiswa KKN Dalam Membantu Kegiatan Proses Belajar Mengajar Di Sekolah Desa Tahai Baru. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN), 4(4), 4193–4200. https://doi.org/10.55338/jpkmn.v4i4

Triyani, B., & Hani Salmalina, F. (n.d.). PERAN MAHASISWA KULIAH KERJA NYATA (KKN) UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN SEBAGAI WUJUD PENGABDIAN DI KAMPUNG NIRBITAN TIPES. MENCARI FORMAT PENGABDIAN INTERNASIONAL  SESUAI KEBUTUHAN BANGSA INDONESIA.

 


 

Lampiran :


Komentar